LifestylePemerintahanUmum

Kagumi Riset Stem Cell SCCR Indonesia, Khofifah Optimistis Indonesia Bisa Jadi Rujukan ASEAN

252
×

Kagumi Riset Stem Cell SCCR Indonesia, Khofifah Optimistis Indonesia Bisa Jadi Rujukan ASEAN

Share this article

EKONOMIHARIINI.COM

SEMARANG, 14 SEPTEMBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi PT. Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (13/9).

Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah melihat langsung fasilitas penelitian dan berbagai teknologi kesehatan yang dikembangkan, termasuk riset terapi sel punca (_stem cell_) dan penelitian kanker.

Kunjungan ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi Khofifah mengenai bagaimana riset, teknologi, kepakaran, dan pelayanan kesehatan dapat dibangun dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan proses pembelajaran yang luar biasa. Kami diperkenalkan dengan berbagai alat kesehatan dan alat-alat laboratorium kesehatan yang menurut saya super-super canggih,” ujarnya.

Gubernur Khofifah melihat penguatan riset dan inovasi kesehatan sebagai salah satu kunci untuk membangun kemandirian dan kualitas layanan kesehatan nasional.

“Kemampuan menghasilkan riset harus berjalan beriringan dengan keberanian melakukan hilirisasi hingga hasil penelitian benar-benar dapat diterapkan menjadi layanan medis yang memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, Gubernur Khofifah menilai keberadaan SCCR Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa dalam bidang kedokteran dan teknologi kesehatan telah berkembang cukup jauh. Tidak hanya menghasilkan penelitian, pusat riset tersebut juga telah mengimplementasikan hasil penelitian untuk mendukung layanan medis.

Ia menyebut, model pengembangan seperti itu penting untuk terus diperkuat di Indonesia. Sebab, kemajuan riset kesehatan tidak akan memberikan dampak maksimal apabila berhenti di ruang laboratorium dan tidak memiliki jalur untuk diterapkan kepada masyarakat.

“Rasanya kita mendapatkan suasana yang bisa memberikan perspektif yang mendalam dan luas bagaimana sesungguhnya anak di negeri ini melalui Stem Cell and Cancer Research Indonesia yang ada di Semarang ini ternyata sudah memberikan hasil riset yang luar biasa, sudah diimplementasikan luar biasa, sudah memberikan layanan yang luar biasa,” katanya.

Bagi Khofifah, penguatan kemampuan riset dan layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi juga berkaitan erat dengan upaya memperkuat kemandirian kesehatan nasional. Terlebih, masih terdapat masyarakat Indonesia yang memilih mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri.

Kondisi tersebut, menurutnya, juga memiliki konsekuensi ekonomi karena pembiayaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri turut mengalir ke negara lain.

“Ini menjadi bagian penting, pertama tentu untuk memberikan layanan kesehatan bagi seluruh manusia, terutama warga bangsa Indonesia. Yang kedua, sebetulnya tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, ratusan triliun, untuk pengobatan bangsa ini, masyarakat Indonesia yang sudah mempercayakan proses layanan kesehatannya ke berbagai rumah sakit di luar negeri,” kata Khofifah.

Ia pun mendorong agar pengembangan pusat-pusat riset kesehatan di dalam negeri mendapatkan dukungan secara lebih luas. Pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dunia usaha, pusat penelitian, hingga para pakar perlu membangun kolaborasi agar inovasi kesehatan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Khofifah melihat, Jawa Timur memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan ekosistem tersebut. Keberadaan banyak perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, industri, pusat penelitian, serta sumber daya manusia di berbagai bidang menjadi potensi yang dapat dikoneksikan untuk menghasilkan inovasi kesehatan.

“Bahkan dari banyak pakar dari perguruan tinggi, perguruan tinggi _world class university_ juga hadir di sini. Tentu tidak sekadar sebagai researcher, tetapi bagaimana proses untuk memberikan layanan dari hasil riset itu bisa dirasakan oleh masyarakat lebih luas lagi,” tuturnya.

Menurut Khofifah, keterhubungan antara peneliti dengan dunia pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi. Hasil penelitian perlu memiliki ruang untuk dikembangkan, diuji, diterapkan secara bertanggung jawab, dan pada akhirnya memberikan solusi atas kebutuhan kesehatan masyarakat.

Ia menambahkan, pengalaman melihat langsung pengembangan riset _stem cell_ di SCCR Indonesia menjadi perspektif penting bagi Jawa Timur dalam memperkuat kolaborasi riset kesehatan di daerah.

“Kita semua mendorong, mendukung bagaimana para expertise di bidang teknologi stem cell di Semarang ini bisa terus mendapatkan ruang untuk mendedikasikan seluruh ilmu yang bisa dirasakan manfaatnya lebih luas lagi oleh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Khofifah bahkan melihat potensi pengembangan pusat riset dan layanan _stem cell_ di Indonesia untuk memiliki daya jangkau yang lebih luas di masa mendatang. Dengan penguatan kapasitas riset, teknologi, sumber daya manusia, dan layanan medis, Indonesia berpeluang menjadi salah satu rujukan pengembangan layanan berbasis teknologi kesehatan di kawasan.

“Dari proses perencanaan ke depan rasanya ini bisa menjadi _center of gravity_ dari proses pelayanan _stem cell_ tidak hanya di Indonesia, tidak hanya di ASEAN, tapi juga di sangat banyak negara akan melihat bahwa anak bangsa ini sudah melahirkan hasil-hasil riset yang luar biasa di bidang kedokteran, terutama, dan sudah memberikan layanan medik yang luar biasa,” katanya.

Ia pun menegaskan, kekuatan utama yang perlu terus dikembangkan bukan hanya kemampuan melakukan penelitian, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab untuk mendukung pelayanan kesehatan.

“Jadi bukan hanya risetnya, tapi juga hasil risetnya sudah diimplementasikan dengan memberikan layanan yang luar biasa,” kata Khofifah.

Khofifah berharap pengembangan riset kesehatan berbasis teknologi tinggi di Indonesia terus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta para pakar. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang semakin luas.

“Dan tentu kita terus doakan tempat ini terus berkembang dan sukses ke depannya,” pungkasnya. (XSW)