PemerintahanPendidikan

Khofifah Indar Parawansa: Dari Jawa Timur untuk Menguatkan Indonesia

218
×

Khofifah Indar Parawansa: Dari Jawa Timur untuk Menguatkan Indonesia

Share this article

EKONOMIHARIINI.COMMOJOKERTO, 27 JUNI 2026* – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya ditentukan oleh kerja keras dan produktivitas, tetapi juga harus diiringi dengan ikhtiar religiusitas _(riyadhah)_ yang mampu menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Khofifah saat menghadiri _Haflah Ikhtitamiddurus_ XXI Pondok Pesantren Al-Amin di Sunrise Hotel, Kota Mojokerto, Sabtu (27/6).

Menurutnya, tradisi pendidikan pesantren telah membuktikan bahwa keseimbangan antara usaha lahir dan ikhtiar batin merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang tangguh, berintegritas, sekaligus membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Amin yang didirikan oleh lima tokoh, salah satunya adalah Plt. Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Akhmad Jazuli, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin.

“Almukarom Bapak Kiyai Jazuli ini beliau luar biasa. Tidak sekedar menjadi Plt. Asisten di Pemprov Jawa Timur, tapi sering menjadi bagian dari penguat bagaimana jejaring ulama dan masyayikh dunia. Dan beliau ini Insya Allah berkahnya luar biasa,” kata Gubernur Khofifah.

Menurutnya, keberkahan merupakan nilai yang terus diupayakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, sebagaimana tercermin dalam misi Nawa Bhakti Satya melalui Jatim Amanah dan Jatim Berkah.

“Berkah itu tidak mudah. Bagaimana kita hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan terus besok lebih baik dari hari ini. Semua sektor, semua lini, semua level masyarakat.

Kepada alumni dan santri Pondok Pesantren Al-Amin, Gubernur Khofifah menerangkan bahwa usaha untuk meraih keberkahan bukan hal yang mudah. Sehingga, dirinya berpesan agar ilmu, nilai, dan semangat belajar yang diajarkan di pondok pesantren tidak dilupakan meskipun sudah lulus.

“Untuk para santri, saya ingin menyampaikan bahwa ada proses panjang yang harus kita lakukan. Bukan bimsalabim. Proses ini yang saya jalani dari masih di DPR hingga jadi menteri termuda yang pernah dilantik sebelum akhirnya jadi gubernur,” ujarnya.

Dikatakannya, riyadhah atau memberseiringi usaha lahir dengan ikhtiar batin sangat penting dalam mencapai kesuksesan.

“Maaf ini sebagai tahadus bini’mah. Apa yang saya lalui bukan sesuatu yang mudah, karena saya bukan anak jenderal, bukan anak guru besar, bukan anak kyai besar,” lanjut Gubernur Khofifah.

Meski tidak memiliki latar belakang keluarga berada, dirinya berhasil mencetak sejarah. Mengingat, di eranya lah Kementerian Peranan Wanita diubah menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

“Waktu itu Gus Dur bertanya, apa bedanya peranan wanita dengan pemberdayaan perempuan? Saya jawab, kalau peranan wanita itu _women’s role_ sedangkan pemberdayaan perempuan itu _women empowerment_. Akhirnya sama beliau nama kementerian itu diubah,” katanya.

“Yang ingin saya sampaikan pada para santri, ada proses panjang. Ada pengabdian panjang yang penguatan-penguatannya itu ditanamkan luar biasa di pesantren. Maka apa yang kita kerjakan sekarang, insya Allah nanti akan ketemu derajat yang mulia,” tuturnya.

Lebih jauh, Pondok Pesantren Al-Amin disebut Gubernur Khofifah memiliki tempat sendiri di hatinya. Sehingga, mantan Menteri Sosial RI menyempatkan diri untuk langsung hadir dalam _Haflah Ikhtitamiddurus_ tersebut.

“Biasanya kalau wisudanya di hotel, saya tidak pernah mau datang. Tapi saya lihat Pak Kyai Jazuli saja, kata beliau anak-anak ingin suasana yang berbeda. Saya berpesan, di manapun nanti para santri-santri melanjutkan pendidikan dan pekerjaan di sektor manapun, iringi dengan _riyadhah_ untuk mencari keberkahan. Jadi, memberseiringi kerja-kerja produktif dengan berbagai ikhtiar-ikhtiar spiritualitas itu menjadi penting,” pungkasnya.

Sementara itu, Plt Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim Akhmad Jazuli menceritakan bahwa Pondok Pesantren Al Amin didirikan pada tahun 2000 atas dukungan para kiyai dan masyarakat. Ia mengatakan, pesantren tersebut dibangun tidak hanya untuk mencetak santri yang berilmu, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, kesederhanaan dan sikap _tawadhu_.

“Santri yang akan dilepas hari ini harus tetap menjaga jati dirinya sebagai santri. Akhlakul karimah, ilmu yang diamalkan dan amal yang ilmiah harus terus dipegang. Jangan sampai setelah keluar dari pondok lalu lupa pada pesantrennya. Saya bersyukur Jawa Timur memiliki gubernur dari kalangan pesantren seperti Ibu Khofifah,” ujarnya.

“Sehingga Al Amin juga akan terus membekali santri bukan hanya pandai mengaji, tetapi juga memiliki keterampilan, mulai dari program vokasi hingga hidroponik, supaya ketika kembali ke masyarakat mereka memiliki ilmu, akhlak, dan bekal hidup,” tuturnya. (COB)