BisnisEkonomi

Kolaborasi TPK Teluk Lamong dan Mitra Kerja Hasilkan 25,3 Juta Jam Kerja Aman

328
×

Kolaborasi TPK Teluk Lamong dan Mitra Kerja Hasilkan 25,3 Juta Jam Kerja Aman

Share this article

EKONOMIHARIINI.COMSURABAYA – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) kembali memperkuat komitmennya dalam membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui penyelenggaraan Safety Forum Triwulan II Tahun 2026. Kegiatan tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus pembelajaran untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko kerja dan memperkuat penerapan budaya keselamatan di lingkungan operasional terminal.

Safety Forum mengusung tema Lesson Learned Fatality Pelindo Grup Tahun 2026 dan Blind Spot Awareness. Forum dihadiri jajaran manajemen PT Terminal Teluk Lamong bersama sejumlah mitra kerja strategis yang terlibat dalam operasional terminal, di antaranya PT Pelindo Daya Sejahtera, PT BIMA, PT APERINDO, PT Lamong Energi Indonesia, Koordinator Koperasi Pelabuhan Indonesia, PT Puskopal, PT Pelindo Husada Citra, PT MTI, PT TEDS, PT NPMA, dan PT BST.
Dalam kesempatan tersebut, PT Terminal Teluk Lamong juga mencatatkan capaian 25.372.483 jam kerja aman selama periode April-Juni 2026. Pencapaian itu merupakan hasil kolaborasi 175 pekerja di area TPK Teluk Lamong bersama 945 tenaga kerja dari berbagai mitra kerja dalam menjalankan operasional terminal secara aman dan andal.
Sebagai simbol komitmen terhadap keselamatan kerja sekaligus keberlanjutan lingkungan, kegiatan diawali dengan penanaman pohon bersama seluruh pemangku kepentingan di kawasan Terminal Teluk Lamong.
Direktur Operasi dan Teknik PT Terminal Teluk Lamong, Muhammad Syukur, menegaskan bahwa keselamatan kerja harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap aktivitas operasional, bukan sekadar memenuhi ketentuan regulasi.
“Keselamatan adalah nilai utama yang tidak dapat ditawar. Seluruh insan perusahaan maupun mitra kerja memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap pekerjaan dilakukan secara aman sehingga setiap pekerja dapat pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Budaya safety harus dibangun melalui kepedulian, disiplin, dan keberanian untuk saling mengingatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Terminal Head TPK Teluk Lamong, Pierre Rochel Tumbol, mengajak seluruh peserta menjadikan setiap insiden di lingkungan Pelindo Grup sebagai pembelajaran untuk memperkuat sistem pencegahan kecelakaan kerja.
Menurutnya, setiap kejadian harus dievaluasi secara menyeluruh agar langkah-langkah pencegahan dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.
“Setiap kejadian merupakan pengingat bahwa risiko selalu ada dalam setiap aktivitas operasional. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari setiap peristiwa, melakukan evaluasi secara menyeluruh, dan memastikan seluruh tindakan pencegahan benar-benar diterapkan di lapangan. Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama dan harus menjadi budaya dalam setiap proses kerja,” kata Pierre.
Dalam sesi utama, peserta memperoleh pemaparan mengenai Lesson Learned Fatality Pelindo Grup Tahun 2026 yang membahas kronologi sejumlah insiden fatal, faktor penyebab, hingga langkah pengendalian untuk mencegah kejadian serupa. Materi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peserta dalam mengidentifikasi potensi bahaya, memperkuat budaya pelaporan, serta memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai prosedur keselamatan.
Forum juga menghadirkan materi Blind Spot Awareness yang membahas pentingnya kewaspadaan terhadap area yang tidak dapat terlihat langsung oleh operator alat berat maupun pengemudi kendaraan operasional. Mengingat tingginya mobilitas alat bongkar muat di kawasan terminal, pemahaman mengenai blind spot dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam menekan risiko kecelakaan kerja.
Melalui Safety Forum ini, PT Terminal Teluk Lamong menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat implementasi budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) melalui edukasi, komunikasi, dan pembelajaran berkelanjutan guna mendukung terciptanya ekosistem pelabuhan yang aman, andal, serta berdaya saing global. (DFV)